| Gadis Bintang |
|
| Kerlip Sapa |
|
|
| Kerlap-Kerlip |
|
| Semesta Lain |
|
| Serpihan Diri |
|
| |
| Sunday, August 16, 2009 |
| Regrets on Sale |
Desember 2008.
Saya memekik tertahan ketika boot di kaki kiri saya menganga. Sol-nya lepas. Entah karena bosan dipakai setiap hari. Entah karena kualitasnya memang terbatas. Saya langsung membelokkan sepeda ke pusat kota, berniat langsung membeli boot baru. Musim dingin 2008 tidak main-main. Dan saya pasti tidak bisa bertahan hanya dengan sepatu biasa. Saya butuh boot hangat yang bisa membungkus betis.
Di Breestraat saya berhenti. Di depan toko sepatu yang menawarkan diskon besar-besaran. Toko itu kecil, tidak menjual sepatu bermerk. Cuma sepatu biasa yang kisaran harganya bersahabat di kantong. Ah, saya juga tidak perlu boot mahal yang super indah dan modis, pikir saya. Cukup sepatu biasa yang bisa menolong saya melewati lima derajat sampai bulan Januari atau Februari.
Saya masuk ke dalam. Seorang lelaki menyambut saya dengan senyum. Bukan orang Belanda. Tipe wajahnya Timur-Tengah. Dengan Bahasa Belanda terbata, ia bertanya apa yang saya cari. Tak lama, kami pun terlibat percakapan.
Asalnya dari Iran. Ia terpaksa melarikan diri dari negerinya karena perang. Tiga belas tahun lalu ia masuk ke Belanda lewat Rotterdam. Naik kapal. Ilegal. Di sini ia mencoba membangun hidup baru. Belajar bahasa Belanda. Bekerja dari satu tempat ke tempat lain. Dan akhirnya, ia berhasil mendapat izin tinggal resmi dan membuka toko sepatu. Ia menikmati hidupnya di negara dingin ini. “Tapi saya masih punya adik perempuan di Iran,” katanya dengan mata menerawang. “Ia sudah menikah sekarang. Saya merindukannya.”
Saya menarik napas panjang. Saya mengerti rasanya, tukas saya. Dan cerita pun beralih ke kisah saya. Ia bertanya dari mana saya berasal, di mana keluarga saya, dan mengapa saya terdampar di negara ini sendirian. Saya jawab pertanyaan sebisanya.
“Jadi sekarang kamu kerja?” tanyanya.
“Deeltijd,” jawab saya. Part-time. “Di sana-sini.”
Ia penasaran.
“Dua hari saya ngajar bahasa Indonesia. Dua hari jadi babysitter. Sisanya saya tidur,” jawab saya setengah serius.
“Memang duitnya cukup?”
“Nou, moet genoeg zijn,” kata saya sambil nyengir. Harus cukup.
Ia menerawang. Saya melanjutkan perburuan boot.
Tak lama, saya temukan boot yang saya perlukan. Lelaki itu sudah berdiri di meja kasir.
“Pilihan yang bagus,” sambil tersenyum ia meraih boot itu dari tangan saya. “Kebetulan ini didiskon 70%.”
“Nee, je hebt het mis,” kata saya bingung. “Coba lihat stikernya. Yang ini cuma didiskon 35%.”
“Ah, saya salah nempelin stiker,” ia tak mau kalah. “Ini harusnya 70%.”
Saya masih belum bisa mencerna maksudnya ketika ia tiba-tiba berseru, “Ukuran kaki kamu 37 ya? Kebetulan!” Ia pergi dari hadapan saya, lalu kembali dengan sepasang sepatu sneaker. “Ini. Gratis buat kamu.”
Saya terbelalak. Berbagai ‘mungkin’ langsung pecah di otak saya.
Ia kasihan terhadap saya. Mungkin saya mengingatkannya akan adik perempuan semata wayangnya di Iran. Mungkin saya mengingatkannya akan dirinya sendiri tiga belas tahun lalu. Ketika ia baru tiba di negeri asing. Tanpa keluarga. Tanpa teman. Tanpa uang. Sendirian. Atau mungkin ia cuma kasihan melihat een klein meisje yang tiba-tiba muncul di tokonya dengan boot mangap sebelah.
Saya ingin menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seseorang mengasihani saya. Saya dikasihani. Rasanya aneh. Sungguh, waktu saya ingin sekali bilang kalau saya baik-baik saja. Saya tidak perlu dikasihani. Tapi lidah saya tak mampu meluncurkan sepotong kata pun.
“Jadi semuanya 15 euro,” katanya dari balik meja.
Saya terkejut. Mana bisa saya cuma bayar lima belas euro untuk boot dan sneaker itu?
Kami lalu terlibat ‘diskusi.’ Saya kekeuh bilang kalau boot itu hanya didiskon 35%. Ia ngotot 70% - sekaligus sneaker gratis. Akhirnya kami sampai pada titik tengah: saya tetap bayar 15 euro, tapi tanpa sneaker.
“Sering-sering datang ke sini. Kalau kamu butuh sepatu, kamu harus datang ke sini,” paksanya. Saya mengangguk. “Kalau kamu butuh uang, kamu juga bisa pinjam dari saya,” katanya lagi.
Saya cuma tersenyum. Sungguh, rasanya aneh. Dikasihani adalah perasaan paling menyedihkan yang pernah saya rasakan.
“Zeg,” ia masih melanjutkan obrolan ketika saya selesai membayar dan beranjak pergi. “Kamu ngajar bahasa Indonesia, metodenya gimana? Gampang nggak bahasa Indonesia?”
Saya menjawab sekenanya, lalu menambahkan. “Besok-besok saya akan main lagi ke sini, walaupun nggak butuh sepatu.”
Ia mengangguk senang.
Dan saya langsung ambil langkah seribu sebelum ia tiba-tiba berminat belajar bahasa Indonesia dan ingin jadi murid saya.
*****
Musim dingin pergi. Salju digantikan bunga-bunga yang bermekaran. Lalu matahari mulai sering muncul. Dan suhu menanjak sampai hampir tiga puluh derajat.
Boot lima belas euro itu menyelamatkan saya. Musim dingin berhasil saya lewati tanpa banyak keluhan. Jemari dan telapak kaki saya hangat. Angin kencang pun tak mampu menembus boot yang erat memeluk betis saya.
Dan sampai musim panas tiba, saya belum juga memenuhi janji. Sungguh, saya ingin kembali singgah ke toko itu. Sekadar bertanya apa kabar. Dan menceritakan kalau saya mulai bekerja full-time, dua bulan setelah pertemuan kami. Dan saya juga akan liburan ke Jakarta bulan September mendatang. Ia tidak perlu lagi mengasihani saya. Saya baik-baik saja.
Tapi tiap kali melewati toko itu, saya selalu urung berhenti. Banyak hal saya jadikan alasan. Mulai dari ‘sedang terburu-buru,’ ‘tokonya ramai. Ia pasti sibuk,’ sampai ‘baru selesai belanja dan daging yang saya beli harus segera masuk kulkas.’
Pagi ini, keputusan saya bulat sudah. Saya akan mengunjunginya. Bukan hanya demi janji yang terlontar, tapi juga karena saya ingin tahu kabarnya.
Saya keluarkan sepeda. Melaju menuju Breestraat. Sudah sekitar dua minggu saya tidak melewati jalan itu. Kemalasan membuat Hoogvliet – supermarket tempat saya biasa belanja - di Breestraat tergantikan oleh Spar – supermarket kecil yang letaknya cuma 200 meter dari tempat tinggal saya.
Tepat di depan toko itu, saya berhenti. Beberapa menit saya cuma mematung.
Sekarang saya tahu, dikasihani bukan perasaan paling menyedihkan di dunia. Ada yang lebih buruk: penyesalan.
Saya masih mematung di depan toko. Etalase-nya bersih. Tak sepasang sepatu pun tampak. Di dalam gelap. Pintunya tergembok. Di kaca etalase sebuah stiker tertempel. Kali ini bukan angka diskon. Tapi logo dan nomor telepon makelar.
“Sudah sepuluh hari toko itu ditutup,” kata pelayan toko sebelah ketika saya bertanya. “Kalau tidak salah, pindah ke Rotterdam.”
Saya menggigit bibir. Dan sekali lagi mencatat dalam-dalam: ‘menyesal’ adalah perasaan paling menyedihkan. |
cerita gadisbintang @ 1:52:00 AM   |
|
|
|
| Thursday, August 13, 2009 |
| Sorry to disappoint, but I really don't do animals! |
Abis ngeliat tulisan ini dipampang gede-gede di KFC Marconiplein, kok nafsu makan saya jadi ilang ya? *bokep-mode: on* ;p
TKP (Tempat yang Kebetulan ada di Poto): KFC Marconiplein, Rotterdam.
|
cerita gadisbintang @ 10:06:00 PM   |
|
|
|
| Thursday, July 9, 2009 |
| Bittersweet. Indeed. |
Menengok kembali ke belakang, mengingat malam itu, senyum saya mengembang. Leiden sedang berpesta. Entah dalam rangka apa. Mungkin merayakan suhu 30 derajat yang jarang sekali mampir ke negeri ini.
Susah payah kami mencari tempat tenang tanpa tumpahan bir, teriakan DJ, dan kerumunan manusia. Akhirnya, di sebuah gang kecil, di tepi Breestraat, kami menemukan kafe kecil tanpa manusia mabuk.
Duduklah kami di sana. Di teras gang kecil yang kadang dilalui sepeda dan gerombolan pejalan kaki. Mengelilingi meja kecil. Merayakan kelulusan Ettore dan Jacklyn. Sekaligus melepas kepergian Jacklyn kembali ke tanah kelahirannya. Keberhasilan dan perpisahan. Itu yang kami rayakan. Bittersweet. Seperti hidup. Ah, mungkin malam itu, kami hanya merayakan hidup.
“It’s not fair,” saya mulai merengek. “Kamu yang mengajak saya menetap di sini. Menyodorkan formulir imigrasi untuk izin tinggal high-skilled migrant. Sekarang, malah kamu yang pulang!”
Jacklyn hanya menatap saya dengan mata kecilnya. Mengedikkan bahu. “It’s just the way it is,” katanya. “Begitulah hidup.”
Mr. Dutchie mempererat rengkuhannya di bahu saya. Dan saya tiba-tiba merasa tidak adil terhadap Jacklyn. Ajakannya tentu saja bukan alasan satu-satunya yang membuat saya masih berada di sini. Dan saya tidak berhak menyalahkannya karena ia akhirnya memutuskan pulang. Atas permintaan kekasih dan orangtuanya.
Dan di sanalah kami. Tiga pasang kekasih yang mengelilingi meja. Alma dan Ettore. Jacklyn dan Jiang. Mr. Dutchie dan saya. Meja kecil itu dipenuhi gelas, kamera, dan hadiah-hadiah kecil. Suhu yang makin menurun kontras dengan perayaan kami yang makin hangat.
“Too bad I hadn’t been born when Pope got shot, otherwise I would’ve done it myself,” tegas Ettore sembari meletakkan gelasnya di atas meja. Malam itu ia sibuk mengkritik Paus. Vatikan. Italia. Kami bersahut-sahutan menanggapi. “You are dangerous, Young man,” saya tidak bisa menahan tawa ketika Ettore kembali mengajukan gagasan ekstrim.
Topik meloncat ke sana-sini. Jacklyn dan Jiang menceritakan liburan mereka keliling Eropa. Alma menceritakan beberapa mitos Italia. Selain sibuk memaki Geert Wilders, saya penasaran dengan kasus Tibet-Cina. (Dan berusaha memahami jawaban Jiang dalam Inggris-British beraksen Cina kental. Sungguh, ketika ia bilang ‘government’ saya pikir ia bilang ‘garment’.). Mr.Dutchie mengaku tidak mengerti dengan tuntutan ‘identitas budaya’ suku Frisian di Belanda Utara. Ettore kembali mengomentari berlian-berlian Paus. Kami berpikir-pikir untuk membentuk agama baru. Dan mereka terbelalak ketika saya bilang Indonesia punya 17.000 pulau.
Denting gelas yang beradu ditingkahi gelak tawa. Kami menikmati kebersamaan malam itu. Menggoda satu-sama lain. Memimpikan liburan bersama di Indonesia (Mereka ingin ke Bali, saya ngotot bilang kalau kami juga harus ke Lombok). Mengomentari segalanya. Mengkritik banyak hal. Dan mempertanyakan lebih banyak hal lagi.
Sudah lewat tengah malam ketika akhirnya kami beranjak pergi. Dan benar-benar mengucap perpisahan pada Jacklyn dan Jiang. “Kabari kami kalau kalian menikah. Mungkin kami bisa datang,” saya dan Alma sepakat.
“Really?” Mata Jacklyn berbinar. “It might be next year.” Jiang mengangguk.
Dengan mata basah, kami berpelukan.

Jika saya menengok kembali malam itu, yang saya temukan adalah enam orang twenty-something yang bermimpi mengubah dunia. Yang percaya semua harusnya bisa lebih baik. Duduk mengelilingi meja kecil, di sudut kota Leiden. Menikmati keberhasilan dan perpisahan. Merayakan hidup.
Bittersweet. Indeed. |
cerita gadisbintang @ 11:41:00 PM   |
|
|
|
| Wednesday, June 24, 2009 |
| Apaaaa, Haijek? (Haiii juga..) ;p |
Aaarrgghhhh..
Setelah mengumpulkan kekuatan bintang dan agak sedikit sembuh dari keterkejutan, akhirnya saya bisa kembali menyentuh blog ini. Tadinya, mah, beuuuu.. agak trauma nyentuh kibort gara-gara baca postingan tanpa izin milik Mr. Dutchie. *lebay*
Tapi, toloongg yaaa.. saya mau meluruskan sedikit mengenai posting narsis Mr. Dutchie di blog ini. (btw, Warta Berita banget nggak kalimat barusan? Hahahaha..) Booowwkkk yaaa.. He is indeed so sweet, romantic and all. And yes, when he is with me, he does cook, clean and everything (sekarang Anda mengerti kan, kenapa saya memacarinya? Hahahaha.. *kedip-kedip mesum ke Mr.Dutchie biar dia nggak marah*) .
Waktu saya sakit kemarin, he even bought me a Teddy Bear to "watch over me when I slept." (Geli nggak lo!? Ahahahaha..). Yes, yes and yes.. he's a very very very good boyfriend, tapiiiiiiii yaaa.. yang belum diketahui umum adalah DIA ITU KADANG NYEBELIN BANGET!!!!
*****
Contoh kasus:
Saya sempat 'bermasalah' waktu nyari kosan baru. Di Belanda yang sempit ini emang susyaahh banget cari tempat tinggal, apalagi kamar kosan. Deeuuhh, pegel deh!
Nah, singkat kata, setelah berpindah-pindah dari satu kamar ke kamar lain, suatu hari saya punya kunci TIGA kamar sekaligus. Mantap nggak, tuh!? Sori, bukan tajir bukan sombong, masalahnya ketiga kamar itu punya status masing-masing, yaitu:
1. Kamar Cruquiuslaan -Leiden yang sudah tidak bisa ditinggalin karena kontrak habis, sementara si kembar pemilik rumah masih ngayeng ke Asia dan belon pulang ampe gini hari.
2. Kamar di Hilversum, yang cuma selemparan beha dari kantor. Waktu itu masih saya jagain sambil pindahan ke kamar baru.
3. Kamar baru yang diidam-idamkan di Haarlemmerstraat - Leiden. Waktu itu masih belum bisa ditinggalin karena saya belon pindahan.
Nah, sekarang silakan bayangkan sendiri berapa kunci yang ada di tas saya: tiap kamar punya minimal empat kunci (pintu gerbang, pintu rumah, pintu kamar, pintu gudang). Dan waktu ngeliat saya punya serencengan kunci begitu, tahukah Anda apa yang dikatakan pacar tercinta saya?
"Baby, kamu kok kayak janitor, sih!?"
Coba bayangiiiinnn, emang saya ada potongan Satpam?
Dan ketika saya protes, "Ih, what kinda boyfriend are you, ngatain pacarnya sendiri mirip janitor?"
Dengan kalem dia jawab: "An honest one."
Eh, Mas Londo, tolong ya, catet! Bedanya jujur ama ngeselin itu tipis!
*****
Jadi coba, yang masih percaya Mr.Dutchie is a very very very good boyfriend, ngacung!
*tengok kanan-kiri dan mengangguk puas karena nggak ada yang nunjuk tangan*
Hahahahahaha...
Ps: Sayang, walau kamu kadang nyebelin, aku cinta kamu, kok. Kalau datang ke Leiden lagi, kamu masak, ya! Oh, iya.. saluran air di dapur juga agak tersumbat, tuh! *pasang tampang merayu menjijikkan* Hahahaha..
|
cerita gadisbintang @ 10:30:00 PM   |
|
|
|
| Saturday, June 20, 2009 |
| This is a hijack |
Hello friends from Indonesia,
This is Mr. Dutchie, I have taken over this blog because Feba, my wonderful girlfriend, is ill (physical, not mental...although...).
I will take this opportunity to say that I am a very very very good boyfriend. I cook, I clean, I change light bulbs, I construct Ikea furniture, I vacuum the carpet, I iron clothes while Feba mostly sits back and checks her email, blog and other people's blogs.
For those of you who are still in doubt over the correct version of Bintang Kecil: 'my' version is obviously the right one. How could you doubt that???
I welcome you all to reply to this blog message.
Best to you all,
Mr. Dutchie
PS: Feba darling get well soon! |
cerita gadisbintang @ 2:28:00 PM   |
|
|
|
| Wednesday, June 17, 2009 |
| Whazzuuuupp, Cicak? *sok asik mode: on* |
Hah!
Kalau Anda pikir saya sudah pinis (maksupnyah kelar gituh!), Anda salah besar! I'm back, beiyybihhh!!
Terimakasih, Tuhan, saya masih diizinkan menyentuh blog ini. *tariknapaspanjang* Bukan sombong, bukan malas, tapi hidup saya akhir-akhir ini mirip marathon yang nggak jelas finish-nya di mana. *tariknapaspanjanglagi*
Tapi, syukurlah, terimakasih Uswah yang tiba-tiba menunda deadline editan sampai tahun depan *jogetjogetdangdut* dan terimakasih pacar yang terus-menerus mendesak saya untuk kembali menapakkan jemari di blog ini walau ia sebenarnya tidak, uhm.. maksup saya belum, mengerti benar kata-kata biadab yang saya torehkan di sini (kayaknya sih, dia begah aja kali saya intilin mulu!) daann.. terimakasih makhluk gila nan cacat pencinta honda jazz (boleh disebutin warnanya, nggak?) yang berhasil membuat saya geli-geli gatel untuk kembali menulis dengan segala pujian tak berotaknyah. Ailopyu ol!! *ini kenapa jadi sok Oscar beginih, sih!?*
Seperti biasa, sebagai pemanasan, saya hobi ngalor-ngidul ke sana-ke mari. Dan BERITA TERPENTING yang bisa dan harus saya bagi di sini adalah... eng, ing, eng... bulan September, tepat sehari sebelon lebaran, sampai pertengahan Oktober SAYA MUDIK!!! *bahagia, senyum sampai kuping* Senaaangggg!!! Ini artinya, hari-hari indah di Margonda bisa diputar ulang (Bayu, Rika.. MARII!!!) sekaligus MAKAN ENAK, TIDUR NYENYAK, dan berharap dimanja di rumah karena sudah dua tahun nggak menginjakkan kaki di persawahan Setu. Ohh, can't wait!!
Ngomong-ngomong, meneruskan kisah soal belajar Bahasa Indonesia, perkembangan Mr. Dutchie sedang terhambat, nih. Kayaknya sih dia kekurangan energi dan waktu buat serius belajar gara-gara sibuk banget di kantor. *membelapacar* Tapi, saya yang jenius ini tentu saja punya cara biar dia tetep keracunan Indonesia: lagu anak-anak!
Bulan lalu saya saksyeess mengajari Cicak-cicak di Dinding. Walaupun tadinya agak bikin esmosi karena Mr. Dutchie nyanyinya: Cicak-cicak DINGDINGDING, toh akhirnya lidah londo-nya bisa dilurusin. Saking fanatiknya, tiap ada kesempatan (dan kampretnya, kesempatannya BANYAK BANGET) Mr.Dutchie selalu ngajak saya paduan suara nyanyiin Cicak-cicak di Dinding. Bowk, ya... sekali, dua kali, tiga kali, sih, oke aja duduk manis di sadel belakang sepeda sambil nyanyi lagu kurang indah itu. Tapi kalo terus-terusan... kan mual juga.
Akhirnya, minggu lalu saya perkenalkan ia pada lagu terbaru: Bintang Kecil. Setau saya, begini nih, liriknya:
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan melayang
Jauh tinggi
Ke tempat kau berada
Baru lima menit diajarin, Mr. Dutchie udah protes, "Babe, mana bisa 'langit yang biru'?"
"Emang kenapa?"
"Kalo langitnya biru, mana mungkin bintangnya kelihatan?" katanya sambil menunjuk langit cerah siang itu.
Hal pertama yang muncul di kepala saya: iya juga, ya.. mungkin ini bedanya pola pikir kritis dan nrimo.
Toh, saya yang NGGAK PERNAH mau kalah ini harus membela diri. Akhirnya yang terlontar adalah: "Yee, jangan protes, dong! Kan maksudnya biru donker!"
Dan perselisihan pun tak bisa dihindari.
Masalah belum selesai, Sodara-sodara! Pacar saya yang kritis dan suka sok tau itu ternyata berpegang teguh pada prinsip cek dan ricek. Suatu hari, di tengah jam kerja, ia mengimel saya cuma buat protes: ia baru saja meng-google Bintang Kecil dan lirik lagu yang saya kasih ternyata beda sama yang dia temuin. Serius. Emang penting banget tuh orang! Nggak percaya? Nih, saya kasih potongan imelnya:
--------------------------------
Trouwens, ik heb de tekst opgezocht van Bintang Kecil:
bintang kecil, di langit yang tinggi (<-- niet biru, maar tinggi)
amat banyak, menghias angkasa
aku ingin, terbang dan menari <--
jauh tinggi ke tempat kau berada
--------------------------------
Jadi ya, Sodarah.. sampe sekarang dia masih kekeuh-sumekeuh kalo langitnya tinggi dan bukan biru. Masalahnya, seinget saya, liriknya itu 'langit yang biru', lagian nggak seru banget kalo 'langit yang tinggi' - di baris terakhir pan udah ada 'jauh tinggi'! Masak diulang!? Nggak kreatip! Huh!
Satu lagi, yang bener itu 'terbang dan menari' atau 'terbang dan melayang' sih? Menurut saya sih, melayang. Kan lebih cocok gituh disandingin sama 'terbang'. Iya, kan? Kan, kan, kan? (Walau kebenarannya agak meragukan, mengingat saya nggak TK).
(Dan baru aja saya googling, sayang nggak dapet situs yang meyakinkan. Ada yang bisa bantu soal lirik lagu ini!? Pliiisss..)
|
cerita gadisbintang @ 10:36:00 PM   |
|
|
|
| Thursday, February 26, 2009 |
| Rontgen TBC: Latihan Buat Suami? |
Coba tanya saya soal hal-hal aneh di Belanda. Pasti saya bisa kasih banyak contoh. Mulai dari cara nyuci piring orang Belanda yang bikin saya mengerutkan alis, sampai gaya supir bus Connexxion yang hobi banting stir di tikungan -- mirip abang-abang Patas 82.
Tapi, dari semua keanehan di negeri berangin ini, cuma satu yang bisa bikin saya kembang-kempis-muka-merah: Tes rutin TBC.
Jadi ceritanya, semua imigran dari luar Eropa yang baru datang ke Belanda wajib ikut tes TBC. Tes rutin ini dilakukan tiap enam bulan sekali selama satu setengah tahun pertama. Jadi, total jendral, ada tiga rontgen TBC yang harus dilalui.
Dan, sumpah, saya sebeeel banget kalo jadwal rontgen sudah di depan mata. Bukan apa-apa, sebenarnya di-rontgen seminggu sekali juga saya rela, cumaaa masalahnyaaaa... tiap kali rontgen TBC, saya harus TELANJANG DADA! Iyaaa!!! SERIUSAN!! TELANJANG DADA!!!
General Check-up di Jakarta.
Jangan harap 'kostum' macam ini bisa Anda dapatkan di Belanda.
Satu setengah tahun lalu, pertama kali menginjakkan kaki di GGD (Gemeentelijk gezondheidsdienst, semacam puskesmas) Leiden untuk tes TBC, saya digiring ke 'ruang buka baju' yang terletak di sebelah ruang foto rontgen. Di sana, sama sekali tak saya temukan kain biru penutup dada yang biasanya dipakai pasien di Rumah Sakit. Bingung, saya lalu bertanya pada ibu petugas, "Bu, kok nggak ada kain penutup, ya?!"
Jawaban si ibu: "Memang apa yang harus ditutupi?"
*langsungpucatpasi*
Akhirnya, dua sesi tes TBC saya lewati sambil memamerkan dada di depan ibu petugas foto rontgen di GGD Leiden.
Minggu lalu, surat terkutuk dari GGD datang lagi. Memberitakan jadwal foto rontgen selanjutnya: hari ini. Dan, pagi ini, sepanjang jalan menuju GGD, saya sudah 'sorak-sorak bergembira'. Ini tes TBC terakhir saya! Yeah! Setelah hari ini, saya tak perlu lagi memamerkan buah dada setiap enam bulan sekali di depan ibu petugas berwajah asem (Mungkin gara-gara kebanyakan liat dada sesama perempuan kali, ya!?).
Nyatanya, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Telanjang-telanjang dahulu, tetap telanjang kemudian. *apa, sih!?* Saya ulang: nyatanya, wahai saudaraku!! Ibu petugas yang hobi cemberut itu hari ini absen. Sedang sakit (keracunan akibat terlalu banyak mengkonsumsi dada perempuan, mungkin!?). Dan, yang menggantikannya adalaaaahhhh... lelaki klimis berusia tiga puluhan.
Aaahhhh, Ayam Kecap!!!
Saya tiba-tiba merindukan si ibu foto rontgen. Sumpah, saya mendingan disuruh pulang ke Jakarta, trus makan nasi padang pake ikan kakap sampe kenyang, daripada disuruh telanjang dada di depan lelaki muda yang lumayan ganteng itu. Aaaarrrggghhh!!!
Namun, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Saya sudah terlanjur duduk di ruang tunggu GGD, dan nggak mungkin tiba-tiba ngebatalin foto rontgen dengan alasan, "Hmmm, bisa ditunda nggak, Mas? Saya mau operasi payudara dulu."
Dengan dada berdebar, lutut lemas, dan wajah pucat pasi, saya melucuti diri. Lalu keluar dari ruang ganti, berjalan ke arah mesin foto rontgen. Telanjang dada. Di depan lelaki muda yang sama sekali asing.
Lima menit kemudian, saya sudah berada di jalan pulang. Tentu saja tak lagi telanjang dada -- jangan ngarep, deh. Hehehe.... Masih dalam keadaan 'shock', saya menelepon Ibu. Menceritakan semuanya.
Di seberang sana, Ibu tenang-tenang saja. "Ahh, nggak papa. Tuh laki-laki dokter, kan?"
"Duuh, tapi kan tetep ajaa... malu," kilah saya.
Dan ibu saya yang metal itu kembali beraksi, "Ah, kamu! Gitu aja ribut! Nggak papa, itung-itung latian. Ntar juga kalo udah punya suami, kamu telanjang-telanjang juga."
Saya histeris.
Permisi, saya mau pingsan dulu.
|
cerita gadisbintang @ 9:57:00 PM   |
|
|
|
| Monday, February 23, 2009 |
| Gendong Duren?? |
Salah satu pertanyaan terbesar dalam hidup saya adalah: kenapa, sih, ibu saya nggak se-'normal' ibu-ibu lainnya? Duh, seriusan, deh, ibu saya itu uniknya pol. Kelakuannya macam ABG yang baru masuk SMU.
Coba aja, bayangin....
Siang ini saya tiba-tiba rindu rumah. Dengan suasana hati melankolis dan perut lapar, saya meng-SMS Ibu. Sekadar bertanya, apakah semuanya baik-baik saja.
Tak sampai lima menit, ponsel saya bergetar. Balasan dari Ibu. Dan, tahukah Anda, kalimat macam apa yang terbaca di SMS Ibu?
"Ya iyalaahh, masak ya iya doong. Duren aja dibelah, bukan digendong. Hehe.. ailopyu, Cantik."
Coba, bayangkaaaaannn!
COBAAAA!!! 
Pertanyaan sakral saya dijawab ala Tika Project Pop -- dimodifikasi pula kalimatnya!
Kerinduan saya dibalas dengan ke-'metal'-an ala AGATA.*
Ah, saya frustasi. 
Yuk, ah.. mau cari duren** dulu!
Hehehehehe....
Bintang-bintang kaki:
*AGATA: Anak Gaul Jakarta dong, ah!
**kalo DUREN yang ini maksudnya 'duda keren' -- tapi kalo ada yang bujangan, ngapain juga nyari duda, ya!?
|
cerita gadisbintang @ 9:29:00 PM   |
|
|
|
Menanti Bintang Jatuh
|
|
|